Monday, July 5, 2010

Dr. Ali Shariati: Bapak Revolusi Iran

Revolusi Islam Iran (1979) yang dipimpin oleh Ayatullah Imam Khomeini adalah salah satu revolusi politik terpenting pada abad ke-20. Salah satu tokoh intelektual yang sangat berpengaruh terhadap lahirnya revolusi itu adalah Ali Shariati, yang mati syahid 32 tahun lalu pada bulan ini.

Ali Shariati dilahirkan pada 1933 di Mazinan, pinggiran kota Sabzevar, Iran. Ayahnya seorang orator nasionalis progresif yang kelak ikut serta dalam gerakan-gerakan politik anaknya.

Ketika belajar di Sekolah Pendidikan Keguruan, Shariati bergaul dekat dengan para pemuda golongan ekonomi lemah (mustad’afin), sehingga ia menyaksikan dan merasakan sendiri kemiskinan dan kehidupan yang berat di Iran pada masa itu.

Di usia 18, ia mulai mengajar. Pada saat yang sama, ia pun berkenalan dengan banyak aspek pemikiran filsafat dan politik Barat, seperti yang tampak dari tulisan-tulisannya. Ia berusaha menjelaskan dan memberikan solusi bagi masalah yang dihadapi masyarakat muslim Iran melalui prinsip-prinsip Islam tradisional yang terjalin dan dipahami dari sudut pandang sosiologi dan filsafat modern. Shariati juga sangat dipengaruhi oleh pemikiran Maulana Jalaluddin Rumi dan Muhammad Iqbal.

Shariati lalu pergi ke Tehran dan mulai mengajar di Institut Hosseiniye Ershad. Kuliah-kuliah umumnya kembali sangat populer di antara mahasiswa-mahasiswanya dan akibatnya berita menyebar dari mulut ke mulut hingga ke semua lapisan ekonomi masyarakat, termasuk kelas menengah dan atas yang mulai tertarik akan ajaran-ajaran Shariati.

Pihak Kekaisaran Iran tentu saja gusar terhadap keberhasilan Shariati yang terus berlanjut memperbanyak pengikut. Polisi Shah Reza Pahlevi pun segera menahannya bersama banyak mahasiswanya.

Tekanan yang luas dari penduduk Iran dan tekanan internasional akhirnya mengakhiri masa penjaranya selama 18 bulan. Ia dilepaskan oleh pemerintah Shah Pahlevi pada 20 Maret 1975 dengan syarat-syarat khusus yang menyatakan bahwa ia tidak boleh mengajar, menerbitkan, atau mengadakan pertemuan-pertemuan, baik secara umum maupun secara pribadi. Aparat keamanan dan intelejen SAVAK mengawasinya dengan ketat.

Shariati memilih menolak syarat-syarat ini dan memutuskan hijrah meninggalkan negaranya dan pergi ke Inggris. Tiga minggu kemudian, pada 19 Juni1977, ia dibunuh oleh agen-agen SAVAK.

Sang Muhajir

Ali Shariati memelajari dan menghayati banyak mazhab pemikiran filsafat, teologi, sosiologi dengan satu sudut pandang Islami. Sebagian orang menyebutkan bahwa dia adalah muslim “Muhajir” (yang berhijrah), yang muncul dari kedalaman samudra mysticism (tasawuf) Timur, lalu mendaki ketinggian pesona gunung sains sosial Barat. Namun ia tak sampai terperangkap pesona itu: ia kembali ke tengah masyarakatnya dengan semua permata yang didapat dari perjalanannya.

Latar pemikiran Timurnya, tentu, ia dapat dari tradisi intelektual Iran yang sangat subur dengan khasanah filsafat Islam dan tasawuf yang kaya. Iran, atau tanah Persia, adalah rumah bagi Jalaluddin Rumi dan Surawahdi, para mistikus Islam klasik. Latar pemikiran Baratnya ia dapat dari Universitas Sorbonne, Paris, Prancis. Sorbonne adalah rumah bagi para pemikir posmodernis terkemuka seperti Michel Foucault.

Karena sangat memahami kondisi sosial-politik pada zamannya, Shariati memulai gerakan kebangkitan Islaminya dengan melakukan pencerahan terhadap massa rakyat, khususnya kalangan muda, melalui kuliah, ceramah, demonstrasi, dan gerakan sosial-politik. Ia percaya jika elemen muda masyarakat ini memiliki keimanan Islam yang benar, mereka akan secara total mengabdikan diri dan aktif menjadi mujahid yang mau berkorban bahkan nyawa.

Ali Shariati secara konstan berjuang untuk menciptakan nilai-nilai kemanusiaan di dalam diri generasi muda Iran. Bagi Shariati, nilai-nilai tersebut telah dirusak oleh metode teknis-saintifik (empirisme-positivisme ilmiah sekular) dan hedonisme-permisif.

Dengan antusias, ia berusaha untuk memperkenalkan kembali al-Qur’an dan sejarah Islam kepada generasi muda sehingga mereka dapat menemukan jati diri mereka yang sejati, agar dapat berjuang melawan semua kekuatan masyarakat yang dekaden dan korup. Tafsir historisnya terhadap Al-Quran sungguh menggugah.

Ideologisasi Islam

Ali Shariati dikenal sebagai pemikir yang multidimensi dan, karenanya juga, multi-interpretable. Tapi para pengamat juga dapat melihat semacam pandangan dunia (weltanschauung) yang cukup konsisten dalam tulisan-tulisannya.

Pandangan dunia Ali Shariati yang paling menonjol adalah soal hubungan agama dan politik, yang dapat dikatakan menjadi dasar dari ideologi pergerakannya. Dalam konteks ini Shariati dapat disebut pemikir politik-keagamaan (politico religio thinker). Demikian ulas Anjar Nugroho dalam blognya, www.pemikiranislam.wordpress.com.

Menurut Anjar Nugroho, salah satu tema sentral dalam ideologi politik keagamaan Shariati adalah agama –dalam hal ini, Islam– dapat dan harus difungsikan sebagai kekuatan revolusioner untuk membebaskan rakyat yang tertindas, baik secara kultural maupun politik.

Lebih tegas lagi, Islam dalam bentuk murninya –yang belum dikuasai kekuatan konservatif– merupakan ideologi revolusioner ke arah pembebasan Dunia Ketiga dari penjajahan politik, ekonomi, dan kultural Barat. http://pemikiranislam.wordpress.com/2007/08/16/pemikiran-syariati-2/ - _ftn3

Dalam pandangan Shariati, agama sebagai ideologi diartikan: “suatu keyakinan yang dipilih secara sadar untuk menjawab keperluan-keperluan yang timbul dan memecahkan masalah-masalah dalam masyarakat.” Ideologi dibutuhkan, menurut Shariati, untuk mengarahkan suatu masyarakat atau bangsa dalam mencapai cita-cita dan alat perjuangan. Ideologi dipilih untuk mengubah dan merombak status quo secara fundamental. http://pemikiranislam.wordpress.com/2007/08/16/pemikiran-syariati-2/ - _ftn4

Menurut Ali Shariati, ada dua jenis agama dalam tahap sejarah. Pertama, agama sebagai ideologi dan kedua, agama sebagai kumpulan tradisi dan konvensi sosial atau juga sebagai semangat kolektif suatu kelompok. Ia menggambarkan kedudukan agama sebagai ideologi dengan pernyataan:

Islam, sebagai suatu ideologi, bukanlah suatu spesialisasi ilmiah; tetapi adalah kepekaan rasa seseorang yang terhubung dengan suatu aliran pikiran yang berupa sistem kepercayaan dan bukan sebagai budaya. Ia memosisikan Islam sebagai suatu gagasan dan bukan sekedar sebagai suatu koleksi ilmu pengetahuan. Islam yang demikian memunyai pandangan yang utuh tentang manusia, pergerakan intelektual dan sejarah, bukan sebagai suatu gudang informasi teknis dan ilmiah. Dan, pada akhirnya, Islam sebagai ideologi berada dalam pikiran kaum intelektual dan bukan sebagai ilmu pengetahuan religius masa lampau yang berada dalam pikiran ulama. http://pemikiranislam.wordpress.com/2007/08/16/pemikiran-syariati-2/ - _ftn5

Shariati juga melihat ada problem besar masa depan dunia Islam, yaitu kolonialisme dan neo-kolonialisme oleh Barat. Hal ini telah mengasingkan masyarakat muslim dari kebudayaan aslinya (turâts), karena mereka mau tidak mau harus mengikuti alur kebudayaan dan pola pikir yang telah “dipaksakan” oleh pihak kolonialis maupun neo-kolonialis.

Shariati memandang saat itu kolonialisme dan westernisasi (pembaratan) telah melanda negara Dunia Ketiga, tak terkecuali Iran. Akibat yang timbul dari hal itu adalah munculnya bentuk-bentuk korporasi multinasional, rasisme, penindasan kelas, ketidakadilan, dan mabuk kepayang terhadap Barat (Westoxication).

Ia menyatakan bahwa kolonialisme Barat dan kepincangan sosial sebagai musuh terbesar masyarakat yang harus diberantas dalam jangka panjang. Tetapi untuk jangka pendek, menurut Shariati, ada dua musuh yang harus segera dimusnahkan: pertama, Marxisme vulgar – menjelma terutama dalam Marxisme-Stalinisme – yang banyak digemari para intelektual dan kaum muda Iran. Kedua, Islam konservatif sebagaimana dipahami kaum mullah yang menyembunyikan Islam revolusioner dalam jubah ketundukan kepada para penguasa. http://pemikiranislam.wordpress.com/2007/08/16/pemikiran-syariati-2/ - _ftn9

Untuk membebaskan massa rakyat dari krisis untuk membawa mereka mencapai negara yang merdeka dan berkeadilan sosial-ekonomi, Shariati yakin bukan melalui Liberalisme, Kapitalisme, ataupun Sosialisme. Yang bisa mengobati penyakit ini, kata Shariati, hanyalah Islam. Baginya, Islam merupakan satu-satunya solusi yang akan menyelamatkan negeri Muslim dari segala bentuk tekanan dan penindasan.

Pertama-tama Shariati berusaha melakukan ideologisasi Islam dengan menunjukkan karakteristik revolusioner Islam. Ia berupaya membuktikan bahwa Islam agama yang sangat progresif, agama yang menentang penindasan. Shariati sangat antusias untuk membuktikan perlunya suatu reformasi bagi pemahaman Islam yang benar, sehingga dibutuhkan figur-figur yang mampu memimpin masyarakat kepada perubahan paradigma dan mental masyarakat.

Mereka itulah yang menurut Shariati disebut para pemikir tercerahkan (rausanfikr). Kemudian Shariati menunjukkan bahwa Islam merupakan akar budaya masyarakat Iran yang telah lama mendarah daging. Dengan demikian, masyarakat Iran harus kembali kepada warisan budaya Islam jika menginginkan perubahan.

Shariati berusaha untuk membedakan antara ideologi, ilmu dan filsafat. Ilmu menurutnya adalah pengetahuan manusia tentang alam yang kongkret. Ia merupakan penemuan manusia tentang beberapa hubungan, suatu prinsip, kualitas dan karakteristik di dalam kehidupan manusia, alam dan benda-benda lainnya. Filsafat, dapat didefinisikan sebagai pencarian ke arah pemahaman sesuatu yang bersifat umum, belum diketahui dan tidak terjangkau ilmu. Filsafat mempersoalkan kemungkinan-kemungkinan ideal, kebenaran dan substansi, fenomena, dan konsep-konsep yang ada dalam alam pikiran manusia. http://pemikiranislam.wordpress.com/2007/08/16/pemikiran-syariati-2/ - _ftn14

Ideologi menuntut seorang intelektual untuk memihak. Setiap ideologi memulai dengan sikap kritis terhadap status quo, kritis terhadap masyarakat dengan berbagai aspek kultural, ekonomi, politik dan moral yang cenderung melawan perubahan-perubahan yang diinginkan. Berbeda dengan filsafat maupun ilmu, yang sama sekali tidak memunyai komitmen seperti itu, hanya menggambarkan realitas seperti apa adanya dengan tidak membedakan apakah ia menolak atau menerima realitas tersebut. http://pemikiranislam.wordpress.com/2007/08/16/pemikiran-syariati-2/ - _ftn16

Inilah perbedaan yang menyolok antara ilmu, filsafat dan ideologi. Dengan kata lain, agar ideologi mampu memposisikan dirinya menjadi landasan perjuangan, maka keberpihakannya harus jelas. Pada wilayah politik, ia harus mengabdi sehingga mampu memberikan doktrin-doktrin politik. Pada kekuasaan politik ia harus bisa menyerang. Inilah sebenarnya, kata Shariati, makna sesungguhnya dari ideologi, yang berarti bukan konsep, landasan berfikir, filsafat, apalagi ilmu. Ideologi adalah kata lain dari keberpihakan politik, tegas Shariati.

Lebih lanjut Shariati mengatakan, baik ilmu maupun filsafat tidak pernah melahirkan revolusi dalam sejarah walaupun keduanya selalu menunjukkan perbedaan-perbedaan dalam perjalanan waktu. Adalah ideologi-ideologi, tegas Shariati, yang senantiasa memberikan inspirasi, mengarahkan dan mengoganisir pemberontakan-pemberontakan menakjubkan yang membutuhkan pengorbanan-pengorbanan dalam sejarah manusia di berbagai belahan dunia.
Hal ini karena ideologi pada hakekatnya mencakup keyakinan, tanggung jawab, keterlibatan dan komitmen. http://pemikiranislam.wordpress.com/2007/08/16/pemikiran-syariati-2/ - _ftn17

Ideologi, lanjut Shariati, menuntut agar kaum intelektual bersikap setia (commited). Ideologilah yang mampu mengubah masyarakat, sementara ilmu dan filsafat tidak, karena sifat dan keharusan ideologi meliputi keyakinan, tanggung jawab dan keterlibatan untuk komitmen. Sejarah mengatakan, kata Ali Shariati, revolusi atau pemberontakan hanya dapat digerakkan oleh ideologi.

Konflik abadi

Menurut Shariati, sejarah umat manusia sepanjang zaman tidak akan terbebas dari konlfik abadi antara yang haq dan yang bathil, antara kaum penindas arogan (mustrakbirin) dengan kaum tertindas yang dilemahkan (mustad’afin).

Seolah ini sudah merupakan skenario Ilahi. Selalu saja ada peperangan antara dua kubu yang saling bertentang secara diametral ini. Syariati mencontohkan dengan awal konflik dan pembunuhan antara saudara sekandung putra Adam dan Hawa, Habil dan Qabil.

Konflik antar kelas ini lalu juga berlanjut misalnya antara Raja Namrud dengan Nabi Ibrahim AS, antara Firaun Raja Mesir dengan Nabi Musa AS dan Nabi Harun, antara imperium Romawi dengan Nabi Isa AS. Berlanjut ke konflik antara para saudagar konglomerat Arab Quraisy dengan Nabi Muhammad AS. Bahkan bersambung para konflik dan peperangan antara Yazid Bin Mua’wiyah dengan Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucunda kesayangan Rasulullah. http://pemikiranislam.wordpress.com/2007/08/16/pemikiran-syariati-2/ - _ftn18

Tak semua ulama yang terlibat dalam Revolusi Islam Iran sepakat dengan pemikiran Ali Shariati. Di antara yang tak sepakat, Murtadha Muthahari, misalnya. Namun, kematian Dr. Ali Shariati dan membuka pintu kemenangan Revolusi Islam Iran tahun 1979.

Nota: Artikel ini dimuat di majalah Madina No. 7 edisi Juli 2009. Artikel ini diperoleh di: http://www.madina.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=107:dr-ali-shariati-sang-muhajir-revolusioner&catid=38:newsflash&Itemid=37

Surat terakhir Ali Shariati kepada anaknya, Ihsan, 1977

Aku tak tahu apa yang disembunyikan hari-hari untukku, peran apa yang telah ditakdirkan atasku untuk menjalankan misi mulia risalah Allah, tapi aku yakin bahwa aku memiliki peran yang belum rampung dituntaskan, kalau tidak bagaimana aku tetap hidup, padahal seharusnya tulang belulangku telah hancur tujuh kali.

Aku memuji Allah karena aku dapat mengalami semua cobaan dan penderitaan yang datang silih berganti, tubuhku masih kuat, kulit tebal apakah yang menyelimuti tubuh ini? Sebagian psikolog mengatakan “Satu generasi tidak akan kuat menerima kekalahan melebihi satu kekalahan, dan lihatlah aku telah mengalami enam atau tujuh kali kekalahan, kekalahan dan kemenangan? Apa bedanya bagi kita? Mungkin kemenangan dan kekalahan merupakan hal penting bagi olahragawan, politikus dan orang-orang yang suka berkompetisi, adapun bagi kita yang terpenting adalah menunaikan kewajiban risalah Allah dalam menghadapi segala kemungkinan yang terjadi. Apabila kita menang, kita mengharap agar terlindungi dari segala kesombongan dan penindasan kepada orang lain. Jika kalah, kita mengharap agar Allah menjaga dari segala kehinaan dan penyerahan diri.

Berjuang demi sebuah hakikat, kebebasan dan demi kebahagiaan manusia, merupakan kebahagiaan yang paling tinggi, dan keikhlasanku dalam perjuangan ini semuanya kulakukan demi bangsaku, agar dapat meringankan jeritan yang selalu ada dalam diriku. sampai-sampai aku tak dapat menjadi seorang ayah dan suami yang baik.

Terkadang aku gelisah, aku takut kekuasaan akan menindas putra-putri dan ayahku yang sudah tua, namun apapun yang terjadi, aku yakin berjalan di jalan Allah, dan ketika sesorang menentukan suatu jalan yang ingin ditempuhnya, maka ia harus siap dengan segala kemungkinannya. Ia harus berjalan sampai ke titik akhir.

Tujukanlah wajahmu untuk agama yang suci, semua yang kita lakukan ini membutuhkan kekuatan iman dan nafas panjang serta kesabaran dalam menanggung semua penderitaan. Ya Allah, berikanlah kami kekuatan sesuai dengan langkah kami.

Beberapa bulan sebelum Revolusi Islam memuncak di Iran, Ali Shariati ditemukan tewas di apartemennya di London, akibat di racun agen SAVAK (Badan Intelijen Iran). Jenazahnya dilarang dimakamkan di Iran oleh Rezim Pahlevi. Sehingga dimkamkan di Damaskus, Syiria di dekat makam Sayidah Zainab.

Friday, June 4, 2010

Mahasiswa Tahan Tiga Mobil Plat Merah di Makassar


Mahasiswa Tahan Tiga Mobil Plat Merah di Makassar
Seorang mahasiswa Universitas 45 Makassar membakar ban bekas saat berunjukrasa di Makassar, Kamis (3/6). Mereka menolak rencana pemerintah mencabut subsidi BBM. (ANTARA/Yusran Uccang )
Makassar (ANTARA News) - Mahasiswa yang berunjukrasa di depan kampus Universitas 45 di Jalan Urip Sumoharjo Makassar, Sulsel, Jumat menyandera tiga mobil berplat merah.

Para pengkritik pengusutan kasus Bank Century itu juga sempat merusak salah satu mobil yang melintas karena sang supir tidak mau menghentikan kendaraannya.

Mobil minibus bernomor polisi DD 284 AW itu kacanya pecah karena dilempari batu oleh mahasiswa. Sisi kanan badan kendaraan juga ringsek dihantam dengan benda keras.

Dua kendaraan dinas milik Dinas Kesehatan Sulsel juga sempat ditahan sekitar 15-20 menit, ketika perwakilan pengunjukrasa naik ke atas mobil berorasi menuntut penuntasan skandal Bank Century.

Aksi yang berlangsung usai shalat Jumat itu, sempat membuat arus lalu lintas di jalur Urip Sumoharjo menuju barat Kota Makassar macet total dan hanya beberapa petugas kepolisian terlihat berjaga-jaga di sekitar lokasi.

Mahasiswa dari Aliansi Mahasiswa Fisip 45 menuntut penghentian jual beli aspirasi suara rakyat yang di tuding berada dalam tim pengawas skandal Bank Century dan penghentian politik dagang sapi.

Mahasiswa yang berasal dari berbagai lembaga kemahasiswaan di lingkup Fisip Universitas 45 itu juga meminta dihentikannya isu kenaikan tarif dasar listri (TDL) dan BBM untuk premium yang dinilai sebagai bagian dari proses pembodohan publik.

sumber: http://www.antara.co.id/berita/1275644164/mahasiswa-tahan-tiga-mobil-plat-merah-di-makassar

Sumber Daya Alam Provinsi Sulawesi Selatan

Peta Provinsi Sulawesi SelatanAreal pertanian di provinsi ini mencapai 1.411.446 ha, terbagi dalam lahan persawahan seluas 550.127 ha dan lahan kering seluas 861.319 ha. Lahan persawahan beririgasi teknis mencapai 317.727 ha, sawah tadah hujan seluas 230.760 ha, sawah pasang surut 1.540 ha dan sawah lebah/ polder seluas 100 ha dengan total saluran irigasi mencapai 244.304 ha. Sawah-sawah inilah yang pada 2006 menghasilkan 3.365.509 ton padi, terdiri atas 3.352.116 ton padi sawah dan 13.393 ton padi ladang. Dibanding dua tahun terakhir, produktivitas padi yang dicapai meningkat, Pada 2004, produksi padi di sana mencapai 3.552.834 ton sementara pada 2005 mencapai 3.619.652 ton. Di luar sawah-sawah tadi, di provinsi ini juga terdapat lahan kering yang terdiri atas lahan pekarangan seluas 178.734 ha, tegalan/kebun seluas 539.266 ha dan ladang/huma seluas 153.319 ha.

Sebagai salah satu lumbung beras nasional, Sulawesi Selatan setiap tahunnya menghasilkan 2.305.469 ton beras. Dari jumlah itu, untuk konsumsi lokal hanya 884.375 ton dan 1.421.094 ton sisanya merupakan cadangan yang didistribusikan bagian timur lainnya bahkan telah diekpor sampai ke Malaysia, Filipina dan Papua Nugini. Lokasi produksi padi terbesar berada di Kabupaten Bone, Soppeng, Wajo, Sidrap, Pinrang dan Luwu (Bodowasipilu).

Selain pertanian, perkebunan juga merupakan sumber daya alam yang sedang di kembangkan seperti: palawija di Sulawesi Selatan pada 2004 sebanyak 674.115 ton, 723.331 untuk tahun 2005 sedangkan pada tahun 2006 mencapai 696.084 ton dan diperkirakan meningkatpada tahun 2007 sekitar 800.000 ton. Jika ini tercapai, Sulawesi Selatan akan menjadi produsen jagung terbesar kelima di Indonesia. Sentral produksi jagung terdapat di Kabupaten Bone, Jeneponto, Bulukumba dan Bantaeng. Pada kegiatan Presiden RI ke Provinsi Sulawesi Selatan dengan acara "Puncak Hari Pangan dan Peresmian Pembukaan Indonesia Food di Makassar tanggal 26 November 2006 menyampaikan bahwa: “… pada kesempatan yang baik ini, saya meminta agar pemerintah daerah, provinsi, kabupaten dan kota menyusun program-program yang nyata, untuk meningkatkan roda ekonomi pedesaan. jika ekonomi pedesaan tumbuh dengan baik, kerawanan pangan dan secara bertahap dapat kita hapuskan. Saya mengingat kembali akan pentingnya revitalisasi pertanian, perikanan dan kehutanan yang telah saya canangkan beberapa waktu yang lalu…”.

Selain jagung, daerah Sulawesi Selatan juga menghasilkan ubi kayu, ubi jalar. kacang tanah kacang hijau dan kedelai, Untuk produksi ubi kayu pada tahun 2004 sebanyak 592.350 ton, tahun 2005 sebanyak 586.350 ton, sedangkan tahun 2006 produksi ubi kayu sebanyak 590.717 ton. Sedangkan produksi ubi jalar sebesar 61.790 ton pada tahun 2004, 76.500 ton untuk tahun 2005 dan pada tahun 2006 diproduksi sebesar 73.430 ton. Kacang tanah diproduksi sebanyak 41.191 ton tahun 2004, tahun 2005 sebanyak 40.328 ton dan pada tahun 2006 dihasilkan sebanyak 41.759 ton, Kacang hijau pada tahun 2004 diproduksi 27,06 ton, tahun 2005 sebanyak 29.675 ton dan di tahun 2006 sebanyak 28.554 ton. Sedangkan untuk produksi kedelai pada tahun 2004 sebesar 26.875 ton, tahun 2005 sebesar 27.269 ton serta tahun 2006 diproduksi sebesar 22.242 ton. Perkebunan adalah sektor sumber daya alam yang menghasilkan berbagai jenis komoditas, antara lain kelapa hibrida, kakao, kopi, lada, vanili, teh, jambu mete dan kapas.

Berdasarkan Tata Guna Horan Kesepakatan (TGHK) tahun 2004, luas hutannya mencapai 3.090.005 ha, meliputi hutan lindung seluas 1.224.279,65 ha, hutan produksi terbatas seluas 488.551 ha dan hutan produksi biasa seluas 131.041,10 ha, Dart hutan-hutan ini dihasilkan 147.739,24 m³ kayu, terdiri aras 33.345,9 m³ kayu HPH dan 114.604,67 m³ kayu non-HPH, Produksi non kayu terdiri atas 6478,67 ton rotan dan 180.126,7 ton getah pinus.

Potensi sektor perikanannya sebanyak 318378 ton, terdiri atas perikanan laut sebanyak 291.969 ton, perairan darat 6.425 ton dan perairan umum 19.984 ton. Ekspor 2005 di sektor ini mencapai 1.700 ton ikan tuna segar/beku, 1.710 ton ikan kerapu serta 1.400 ton ikan kakap, meningkat jadi 2.100 ton ikan tuna segar/beku, 1.950 ton ikan kerapu serta 1.745 ton ikan kakap pada 2006. Produk kelautan lainnya adalah rumput laut, yang pada 2004 di budi dayakan di garis pantai sepanjang 1900 km dengan total produksi 4.642,7 ton. Saat ini Sulawesi Selatan merupakan sentral pengembangan produksi rumput laut di Indonesia, khususnya untuk jenis glacillaria dan E Cottoni, masing-masing memberikan kontribusi 58% dan 36% terhadap produk rumput laut nasional.

Berbagai jenis peternakan berkembang di sana, terutama ternak sapi, kerbau, ayam, itik, kambing dan sebagainya. jumlah populasi ternak 2005 sebanyak 28.942.526 ekor per tahun dan produksi peternakan mencapai 26.747.228,47 ton per tahun. Populasi ternak tahun 2004 untuk sapi mencapai 738.140 ekor, kerbau 133.467 ekor, kuda 118.101 ekor, kambing 555.927 ekor, babi 448.869 ekor, ayam ekor dan itik 4.118.276 ekor. Sedangkan pada tahun 2005 jumlah populasi kerbau 171,790 ekor, kuda 130.319, sapi 567.749 ekor, babi 570.917 ekor, dan itik 3.534.280 ekor. Pada 2006 populasi kerbing sebanyak 245.350 ekor, kuda 124.254 ekor, ayam sebanyak ekor dan itik sebanyak 4.765.428 ekor.

Perkebunan adalah sektor andalan dengan berbagai jenis komoditas, antara lain kelapa sawit, kelapa hibrida, kakao, kopi, lada, vanili, tebu, karet, teh, jambu mete dan kapas. Dari semuanya, kakao dan kopi adalah komoditas primadona. Luas perkebunana kakao 662.615 ha, terdiri atas perkebunan rakyat 657.334 ha dan perkebunan besar swasta 5.281 ha. Pertumbuhan rata-rata kakao mencapai 2% per tahun, dengan produksi 521.440 ton per tahun. Sentra produksi kakao terdapat di Kabupaten Luwu Timur, Luwu Utara, Luwu, Wajo, Pinrang, Bone dan Sinjai.

Primadona lainya adalah kopi, dengan luas hutan 203.844 ha, terdiri atas lahan kopi arabika seluas 118.742 ha dan kopi robusta seluas 85.102 ha. Luas lahan ini pun masih dibagi dua, perkebunan rakyat besar seluas 107.966 ha dengan produksi 47.231 ton per tahun dan perkebunana besar swasta seluas 10.776 ha dengan produksi 2.093 ton per tahum. Laju perkembangan luas lahan rata-rata 1,5% per tahun dan pertumbuhan rata-rata produksi 3% per tahun. Setra produksi kopi terdapat di Kabupaten Tana Toraja dan Enrekang.

Salah satu faktor yang mendorong tingginya PDRB Provinsi Sulawesi Selatan adalah sektor pertambangan. Produksinya mencakup emas, mangan, besi, pasir besi, granit, timah hitam, batu nikel sebagai produk unggulannya. Produksi nikel mencapai 73.283.138 kg per tahun, terdapat di Kabupaten Luwu Timur dan Luwu Utara.

Sumber: Indonesia Tanah Airku (2007).

Tuesday, April 6, 2010

Sejarah Singkat Bantaeng (2)

Nama Resmi : Kabupaten Bantaeng
Motto : -
Ibukota : Timika
Luas Wilayah: 395,83 km²
Jumlah Penduduk: 161.776 jiwa (2002)
Kepadatan : - jiwa/km²
Wilayah Administrasi:
Kecamatan : 8
Desa/Kelurahan : 67
Bupati : Dr.Ir. Nurdin Abdullah, M.Agr
Kode Area : 0413
Alamat : -
Website : http://www.bantaeng.go.id

SEJARAH
Hari kelahiran Bantaeng adalah merupakan momentum sejarah yang memiliki makna yang sangat dalam dan mendasar, oleh karena itu maka penentuan hari Jadi Bantaeng harus dilakukan sejarah arif dan bijaksana serta mempertimbangkan berbagai hal dan dimensi, antara lain dengan mempergunakan berbagai pendekatan dan penelitian yang seksama, seperti seminar, diskusi-diskusi ilmiah dan observasi terhadap data lontara, penelitian situs sejarah dan melalui penelitian dokumen-dokumen yang ada.

Apabila dilihat dari segi yuridis formal, maka hari jadi Bantaeng jatuh pada tanggal 4 Juli 1959 disaat diundangkan Undang-Undang Nomor 29 tahun 1959 tentang pembentukan Daerah-Daerah Tingkat II di Sulawesi.

Namun, pemberlakuasn Undang-Undang Nomor 29 tahun 1959, bukanlah menunjukkan keberadaaan Bantaeng pertama kali, karena Kabupaten Bantaeng sebagai bekas Afdeling pada Zama Pemerintahan Hindia Belanda sudah lama dikenal sebagai pusat pemerintahan formal. Bahkan sejak tanggal 11 November 1737 Presiden Pertama Pemerintahan Hindia Belanda telah memimpin pemerintahan di Bantaeng.

Dengan status "Buttatoa", maka kita menoleh kepada sejarah jauh sebelumnya, ketika kerajaan Bantaeng terbentuk pada abad XII, yang telah ditemukan oleh kerajaan Singosari dan Kerajaan Majapahit ketika memperlebar usaha dagang dan kekuasaan kewilayah timur edan dicatat dalam berbagai dokumen, antara lain peta wilayah Singosari dan buku Prapanca yang berjudul Negara Kertagama.

Dengan demikian, maka hari jadi Bantaeng, selain bermakna historis juga bermakna simbolik yang menggambarkan nilai budaya dan kebesaran Bantaeng dimasa lalu dengan adat istiadatnya yang khas.

Tanggal 7 (Tujuh) menunjukkan simbol Balla Tujua di Onto, dan Tau Tujua yang memerintah dimasa lalu, yaitu : Kare Onto, Bissampole, Sinowa, Gantarangkeke, Mamampang, Mamampang, Katapang dan Lawi-Lawi.

Selain itu, sejarah menunjukkan, bahwa pada tanggal 7 Juli 1667 terjadi perang Makassar, dimana tentara Belanda mendarat lebih dahulu di Bantaeng sebelum menyerang Gowa karena letaknya yang strategis sebagai bandar pelabuhan dan lumbung pasngan Kerajaan Gowa. Serangan Belanda tersebut gagal, karena ternyata dengan semangat patriotiseme rakyat Bantaeng sebagai bagian Kerajaan Gowa pada waktu itu mengadakan perlawanan besar-besaran.

Bulan 12 (dua belas),menunjukkan sistim Hadat 12 atau semacam DPRD sekarang, yang terdiri dari perwakilan rakyat melalui Unsur Jannang (Kepala Kampung) sebagai anggotanya, yang secara demokratis mennetapkan kebijaksanaan pemerintahan bersama Karaeng Bantaeng.

Tahun 1254 dalam atlas sejarah Dr. Muhammad Yamin, telah dinyatakan wilayah Bantaeng sudah ada, ketika kerajaan Singosari dibawah pemerintahan Raja Kertanegaramemperluas wilayahnya ke daerah timur Nusantara untuk menjalin hubungan niaga pada tahun 1254-1292. Penentuan autentik Peta Singosari ini jelas membuktikan Bantaeng sudah ada dan eksis ketika itu.

Bahkan menurut Prof. Nurudin Syahadat, Bantaeng sudah ada sejak tahun 500 masehi, sehiongga dijuluki Butta Toa atau Tanah Tuo (Tanah bersejarah).

selanjutnya laporan peneliti Amerika Serikat Wayne A. Bougas menyatakan Bantayan adalah Kerajaan Makassar awal tahun 1200-1600, dibuktikan dengan ditemukannya penelitian arkeolog dan para penggali keramik pada bagian penting wilayah Bantaeng yakni berasal dari dinasti Sung (960-1279) dan dari dinasti Yuan (1279-1368).

Dengan demikian, maka sesuai kesepakatan yang telah dicapai oleh para pakar sejarah,sesepuh dan tokoh masyarakat Bantaeng pada tanggal 2-4 Juli 1999. berdasarkan Keputusan Mubes KKB nomor 12/Mubes KKB/VII/1999 tanggal 4 Juli 1999 tentang penetapan Hari Jadi Bantaeng maupun kesepakatan anggota DPRD Tingkat II Bantaeng, telah memutuskan bahwa sangat tepat Hari Jadi Bantaeng ditetapkan pada tanggal 7 bulan 12 tahun 1254, Peraturan Daerah Nomor: 28 tahun 1999.

Sejak terbentuknya Kabupaten daerah Tingkat II Bantaeng berdasarkasn UU Nomor 29 Tahun 1959, Bupati Kepala Daerah Tingkat II yang pertama dilantik pada tanggal 1 Pebruari 1960.

Adapun pejabat pemerintahan sejak terbentuknya Kabupaten Bantaeng sebagai berikut:
1. A. Rifai Bulu Tahun 1960-1965
2. Aru Saleh Tahun 1965-1966
3. Solthan Tahun 1966-1971
4. H. Solthan Tahun 1971-1978
5. Drs. H. Darwis Wahab Tahun 1978-1988
6. Drs. H. Malingkai Maknun Tahun 1988-1993
7. Drs. H. said Saggaf Tahun 1993-1998
8. Drs. H. Azikin Solthan, M. Si Tahun 1998

Sejarah Singkat Bantaeng

"Bantaeng Butta Toa"

Pada masa Kerajaan Bantaeng rakyat dipimpin oleh seorang Raja dengan gelar Karaeng, yang mana pada saat itu memiliki kekuasaan yang sangat besar di daerah ini, ada beberapa karaeang yang pernah memerintah di daerah ini yaitu :
  1. Bantayan pada awalnya sebagai Kerajaan yakni tahun 1254 - 1293 yang mana diperintah oleh Mula Tau yang bergelar To Toa yang memimpin Kerajaan Bantaeng yang terdiri dari 7 Kawasan yang masing diantaranya dipimpin oleh Karaeng, yaitu Kare Onto, Kare Bissampole, Kare Sinoa, Kare Gantarang Keke, Kare Mamampang, Kare Katampang dan Kare Lawi-Lawi, yang semua Kare tersebut dikenal dengan nama “Tau Tujua”
  2. Sesudah Mula Tau, maka Raja kedua yang memerintah yaitu Raja Massaniaga pada tahun 1293.
  3. Pada tahun 1293 - 1332 dipimpin oleh To Manurung atau yang bergelar Karaeng Loeya.
  4. Tahun 1332 - 1362 dipimpin oleh Massaniaga Maratung.
  5. Tahun 1368 - 1397 dipimpin oleh Maradiya.
  6. Tahun 1397 - 1425 dipimpin oleh Massanigaya.
  7. Tahun 1425 - 1453 dipimpin oleh I Janggong yang bergelar Karaeng Loeya.
  8. Tahun 1453 - 1482 dipimpin oleh Massaniga Karaeng Bangsa Niaga.
  9. Tahun 1482 - 1509 dipimpin oleh Daengta Karaeng Putu Dala atau disebut Punta Dolangang.
  10. Tahun 1509 - 1532 dipimpin oleh Daengta Karaeng Pueya.
  11. Tahun 1532 - 1560 dipimpin oleh Daengta Karaeng Dewata.Tahun 1560 - 1576 dipimpin oleh I Buce Karaeng Bondeng Tuni Tambanga.
  12. Tahun 1576 - 1590 dipimpin oleh I Marawang Karaeng Barrang Tumaparisika Bokona.
  13. Tahun 1590 - 1620 dipimpin oleh Massakirang Daeng Mamangung Karaeng Majjombea Matinroa ri Jalanjang Latenri Rua.
  14. Tahun 1620 - 1652 dipimpin oleh Daengta Karaeng Bonang yang bergelar Karaeng Loeya.
  15. Tahun 1652 - 1670 dipimpin oleh Daengta Karaeng Baso To Ilanga ri Tamallangnge.
  16. Tahun 1670 - 1672 dipimpin oleh Mangkawani Daeng Talele.
  17. Tahun 1672 - 1687 dipimpin oleh Daeng Ta Karaeng Baso ( kedua kalinya ).
  18. Tahun 1687 - 1724 dipimpin oleh Daeng Ta Karaeng Ngalle.
  19. Tahun 1724 - 1756 dipimpin oleh Daeng Ta Karaeng Manangkasi.
  20. Tahun 1756 - 1787 dipimpin oleh Daeng Ta Karaeng Loka.
  21. Tahun 1787 - 1825 dipimpin oleh Ibagala Daeng Mangnguluang Tunijalloka ri Kajang.
  22. Tahun 1825 - 1826 dipimpin oleh La Tjalleng To Mangnguliling Karaeng Tallu Dongkonga ri Bantaeng yang bergelar Karaeng Loeya ri Lembang.
  23. Tahun 1826 - 1830 dipimpin oleh Daeng To Nace ( Janda Permaisuri, Kr. Bagala Dg. Mangnguluang Tunijalloka ri Kajang ).
  24. Tahun 1830 - 1850 dipimpin oleh Mappaumba Daeng To Magassing.
  25. Tahun 1850 - 1860 dipimpin oleh Daeng To Pasaurang.
  26. Tahun 1860 - 1866 dipimpin oleh Karaeng Basunu.
  27. Tahun 1866 - 1877 dipimpin oleh Karaeng Butung.
  28. Tahun 1877 - 1913 dipimpin oleh Karaeng Panawang.
  29. Tahun 1913 - 1933 dipimpin oleh Karaeng Pawiloi.

Monday, April 5, 2010

Sejarah Singkat Kota Makassar

SEJARAH SINGKAT KOTA MAKASSAR

Kota Makassar yang pernah bernama Ujung Pandang adalah wilayah Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo yang terletak pada pesisir pantai sebelah barat semenanjung Sulawesi Selatan. Pada mulanya merupakan bandar kecil yang didiami oleh Suku Makassar dan Bugis yang dikenal sebagai pelaut ulung dengan perahu PINISI atau PALARI. Jika ditinjau dari sejarah Kerajaan Majapahit dibawah Raja HAYAM WURUK (1350-1389) dengan Maha Patih GAJAH MADA bertepatan dengan masa pemerintahan Raja Gowa ke-II TUMASALANGGA BARAYA (1345-1370), Makasar (Makassar) sudah dikenal dan tercantum dalam lembaran Syair 14 (4) dan (5) Kitab Negarakertagama karangan PRAPANCA (1364) sebagai Daerah ke-VI Kerajaan Majapahit di Sulawesi. MASA SEJAK BERDIRINYA KERAJAAN GOWA DAN KERAJAAN TALLO

1. Kerajaan Gowa berdiri kira-kira tahun 1300 Masehi dengan raja yang pertama adalah seorang perempuan bernama TUMANURUNG (1320-1345) yang kawin dengan KARAENG BAYO berasal dari Bonthain yang menurunkan raja-raja Gowa selanjutnya.

2. Pusat Kerajaan Gowa ini terletak diatas bukit Takka'bassia yang kemudian berubah namanya menjadi Tamalate, tempat ini menjadi pusat Kerajaan Gowa sampai kepada masa pemerintahan Raja Gowa ke-VIII I-PAKERE TAU TUNIJALLO RI PASSUKKI (1460-1510).

3. Dalam masa pemerintahan Raja Gowa ke-VI TUNATANGKA LOPI 1445-1460) terjadi pembagian kerajaan, yaitu Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo, masing-masing dipegang oleh kedua puteranya yaitu Kerajaan Gowa dipegang oleh BATARA GOWA TUNIAWANGA RI PARALEKKANNA sebagai Raja Gowa ke-VII (1460) dan Kerajaan Tallo dipegang oleh KARAENG LOE RI SERO sebagai Raja Tallo Pertama.

4. Raja Gowa ke-IX DAENG MATANRE KARAENG MANGNGUNTUNGI yang bergelar TUMAPA'RISI KALLONA kedua kerajaan Gowa dan Tallo disatukan kembali dan diperintah oleh Raja Gowa, dan yang menjadi Mangkubumi adalah Raja Tallo. Kedua kerajaan ini sering disebut Kerajaan Makassar.

5. Pembangunan Benteng Somba Opu dari tanah liat pada tahun 1525 oleh Raja Gowa ke-IX TUMAPA'RISI KALLONNA (1510-1546). Dalam benteng ini dibanguna istana raja Gowa. Makassar (Kerajaan Gowa) menjadi pusat bandar niaga dengan syahbandar adalah DAENG PAMMATE yang diangkat pada tahun 1538. Sejak itu Makassar menjadi Ibu Negeri, dengan bertitik pusat pada Kota Raja Somba Opu.
6. Raja Gowa ke-X I-MANRIWAGAU DAENG BONTO KARAENG LAKIUNG TUNIPALLANGGA ULAWENG (1546-1565) Benteng Somba Opu disempurnakan dan dibangun dari batu bata.

7. Benteng Jumpandang (Ujung Pandang) yang mulai didirikan pada tahun 1545 pada masa pemerintahan TUMAPA'RISI KALLONNA kemudian dilanjutkan oleh TUNIPALLANGGA ULAWENG, maka oleh Raja Gowa SULTAN ALAUDDIN pada tanggal 9 Agustus 1634 membuat dinding tembok Benteng Ujung Pandang, dan pada tanggal 23 Juni 1635 dibuat lagi dinding tembok kedua dekat pintu gerbang sehingga menyerupai seekor penyu.

8. Raja Gowa ke-XIV I-MANGNGARANGI DAENG MANRABIA dengan gelar SULTAN ALAUDDIN memerintah mulai tahun 1593-1639 dengan Mangkubumi I-MAL-LING


Sejak abad ke-16, Makassar merupakan pusat perdagangan yang dominan di Indonesia Timur, dan kemudian menjadi salah satu kota terbesar di Asia Tenggara. Raja-raja Makassar menerapkan kebijakan perdagangan bebas yang ketat, di mana seluruh pengunjung ke Makassar berhak melakukan perniagaan disana, dan menolak upaya VOC (Belanda) untuk memperoleh hak monopoli di kota tersebut. Selain itu, sikap yang toleran terhadap agama berarti bahwa meskipun Islam semakin menjadi agama yang utama di wilayah tersebut, pemeluk agama Kristen dan kepercayaan lainnya masih tetap dapat berdagang di Makassar. Hal ini menyebabkan Makassar menjadi pusat yang penting bagi orang-orang Melayu yang bekerja dalam perdagangan di kepulauan Maluku, dan juga menjadi markas yang penting bagi pedagang-pedagang dari Eropa dan Arab.Semua keistimewaan ini tidak terlepas dari kebijaksanaan Raja Gowa-Tallo yang memerintah saat itu (Sultan Alauddin, Raja Gowa & Sultan Awalul Islam Raja Tallo). Kepentingan Makassar menurun seiring semakin kuatnya Belanda di wilayah tersebut, dan semakin mampunya mereka menerapkan monopoli perdagangan rempah-rempah seperi keinginan mereka. Pada tahun 1669, Belanda, bersama dengan La Tenri Tatta Arung Palakka dan beberapa kerajaan sekutu Belanda Melakukan penyerangan terhadap kerajaan Islam kembar Gowa-Tallo yang mereka anggap sebagai Batu Penghalang terbesar untuk menguasai rempah-rempah di Indonesia timur. dan setelah berperang habis-habisan mempertahankan Negaranya melawan beberapa koalisi kerajaan yang dipimpin oleh belanda, akhirnya Gowa-Tallo (Makassar)terdesak dan dengan terpaksa menanda tangani perjanjian Bungayya. Sebenarnya jejak kehadiran Makassar sudah dapat dilihat didalam kitab Nagara kartagama yang di tulis oleh Empu Prapanca pada abad ke14.
Sejak tahun 2004 kota makassar sudah mulai melakukan pembangunan sarana-sarana publik yang baru dan berkualitas. Hal ini dilakukan berdasarkan pada slogan kota Makassar yaitu Great Expectation City. Sejak saat itu dimulailah pembangunan mulai dari Menara Balaikota sekarang sudah difungsikan, Graha Pena Fajar yang juga merupakan gedung tertinggi di Makassar, Pelataran Losari, Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin, Pelebaran Jalan tol yang menghubungkan kota Makassar ke Bandara dan juga GOR Sudiang. Namun masih ada beberapa bagungan yang sementara dikerjakan dan yang akan dikerjakan seperti Kalla Tower, Menara Bosowa, Perubahan Lapangan Karebosi, Pembangunan Trans KallaPantai Losari. Penambahan 2 pelataran di Pantai Losari. yang merupakan Family Entertainment Center pertama di Indonesia, Center Point of Makassar (Equilibrium) yang akan memberikan ikon baru bagi Kota Makassar selain Pantai Losari.